Apa itu serangan
klorida?
Merupakan penyebab utama korosi pada struktur beton di
lingkungan laut. Serangan ini unik karena menimbulkan
korosi pada tulangan beton dan relatif tidak menyebabkan kerusakan pada
material betonnya sendiri. Ion klorida menyerang lapisan pasif dan ketika konsentrasinya
mencapai jumlah terentu, lapisan tersebut bisa hancur.
Korosi pitting /
korosi sumuran?
Pembentukan lubang-lubang di lokasi-lokasi dimana lapisan
pasifnya hancur. Serangan korosi yang paling berbahaya untuk tulangan, karena
keberadaan daerah anoda yang amat aktif dan terlokalisasi yang dikombinasi
dengan daerah katoda yang luas serta proses korosinya yang self catalysis. Menyebabkan reduksi
yang cepat dari luas penampang tulangan bahkan tanpa adanya indikasi kerusakan yang tampak pada permukaan beton.
Perbedaan dengan
karbonasi?
Lapisan pasif tulangan akan mengalami depasivasi setelah terjadinya penurunan nilai pH beton dan
berakibat pada korosi merata. Beda dengan serangan klorida mekanisme awalnya
adalah pembentukan lubang-lubang di lokasi-lokasi dimana tulangannya telah di
devasipasi.
Siklus retak-korosi-retak pada beton di lingkungan laut
Service life?
Perioda saat struktur
dapat memenuhi fungsi strukturalnya. Didasarkan pada :
-
Umumnya hanya memiliki umur layan setengah kali
dari umur layan prediksinya
-
Biaya rehabilitasi struktur beton bertulang
akibat kerusakan korosi amat tinggi
Untuk menaksir umur dan durabilitas, dibutuhkan prediksi
dari proses penetrasi ion klorida ke dalam beton. Dengan faktor utama :
-
Koefisien difusi ion klorida
-
Konsentrasi klorida kritis pada permukaan
tulangan
Pemodelan umur layan didasarkan pada kerusakan yang
disebabkan oleh korosi tulangan :
1. Model Bebas Korosi
Penentuan umur layan didasarkan pada ketentuan tidak boleh
ada korosi
2. Model kerusakan korosi yang masih diterima
Penentuan umur layan didasarkan pada ketentuan boleh ada
korosi namun pada batas yang bisa diterima
3. Model kerusakan akhir
Penentuan umur layan didasarkan pada kondisi ultimate dari
struktur (runtuh)
Inisiasi : dimulai saat klorida
melakukan penetrasi melalui selimut beton sampai ketika konsentrasinya di
permukaan tulangan mencapai nilai ambang batas tertentu (treshold value)
menyebabkan depasivasi tulangan
Propagasi : dimulai saat tulangan yang sudah mengalami depasivasi mengalami kerusakan korosi
lebih jauh sampai beton mengalami
retak-retak dan spalling
Jika awal terjadinya korosi diambil sebagai kondisi batas
kerusakan struktur maka akhir perioda inisasi merupakan kondisi batas, yang
menentukan umur layan dari struktur (model 1 di gambar)
Jika kondisi batas diambil pada garis kerusakan yang mash
bisa ditoleransi pada tahap propagasi, maka umur layan struktur adalah jumlah
dari perioda insiasi ditambah perioda propagasi sampai pada batas kerusakan
yang tidak bisa diterima lagi (model 2 di gambar)
Penelitian lebih banyak difokuskan pada pengembangan formula
di tahap inisasi. Struktur beton yang berlokasi di zona splash memiliki resiko
korosi terbesar. Prediksi umur layan didasari oleh prediksi perioda inisiasi
maka dari itu harus diprediksi laju penetrasi ion klorida ke dalam beton sampai
konsentrasi pada permukaan tulangan mencapai nilai ambang batas. Prediksi umur
layang merupakan masalah yang kompleks karena banyak mekanisme transportasi
yang terlibat dalam pemodelan laju penetrasi klorida kedalam beton
Mekanisme transport yang paling
sering digunakan untuk estimasi penetrasi klorida ke dalam tulangan beton
adalah mekanisme difusi. Model yang paling sering digunakan untuk mekanisme
difusi klorida adalah model yang diturunkan dari Hukum Fick kedua. Prediksi
berdasarkan hukum tersebut melibatkan perhitungan dari koefisien difusi
klorida.
Diagram difusi
Estimasi penetrasi
klorida?
-
Pengambilan sampel beton yang mengandung
klorida, dengan cara concrete core
atau drilling
-
Analisa kandungan klorida pada sampel beton,
dengan cara titrasi
-
Hasil analisa konsentrasi ion klorida
selanjutnya di plot pada berbagai kedalaman yang berbeda dari permukaan beton
-
Dari profil tersebut diperoleh koefisien difusi dan konsentrasi klorida
pada permukaan beton
Profil klorida tipikal
Solusi persamaan difusi fick
Plot of error function
Zona splash ada perhitungan
tersendiri namun bisa menggunakan solusi persamaan sebelumnya dengan nilai D
yang dimodifikasi
Asumsi persamaan difusi Fick :
-
Non steady state
-
Hanya ke satu arah
-
Tidak berubah dengan waktu
-
Koefisien difusi konstan
Koefisien difusi tergantung :
-
Umur beton
-
Perbandingan air semen
-
Jumlah dan difusivitas agregat
-
Kelembaban relatif
-
Temperatur
-
Mikro struktur dari pasta semen dan agregat
-
Jenis dan lamanya curing
Nilai Ambang untuk Konsentrasi Klorida?
Ada jumlah konsentrasi klorida
tertentu yang harus dipenuhi untuk terjadinya depasivasi tulangan yang kemudian
akan memulai proses korosi, biasa disebut nilai
ambang batas klorida atau jumlah
konsentrasi klorida kritis yang diperlukan untuk berlangsungnya proses korosi.
Parameter :
-
Kualitas beton
-
Kondisi lingkungan dan pembebanan
Nilai ambang batas klorida yang tercantum di berbagai standar peraturan
Sumber klorida?
-
Pencampuran air laut sebagai air campuran,
akselerator yang mengandung klorida atau agregat yang terkontaminasi klorida
-
Penggunaan garam pengencer, pembahasan dan pengeringan
air laut, dan penggunaan bahan kimia yang mengandung klorida
-
Ion klorida bebas dalam larutan air pori,
terikat secara kimiawi dengan produk hidrasi semen, terserap secara fisik
kedalam gel semen sebagai klorida terikat
Hanya klorida bebas yang dapat menyebabkan terjadinya korosi
Konsentrasi klorida permukaan?
Faktor yang menentukan antara
lain :
-
Lokasi atau jarak dari struktur tersebut
terhadap sumber klorida
-
Kondisi lingkungan
-
Material
Profil klorida terhadap zona
Profil klorida terhadap w/c
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar